Mei 13, 2026
BPS Papua Barat Ekonomi & Bisnis Headline Pemrov Papua Barat

NTP Papua Barat Naik April 2026, Perikanan Jadi Penopang, Papua Barat Daya Justru Turun

JEJAKPAPUA.COM.MANOKWARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat kembali merilis perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) April 2026 yang menunjukkan tren berbeda antara dua provinsi di wilayah tersebut.

Papua Barat mencatat kenaikan NTP, sementara Papua Barat Daya justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Kepala BPS Papua Barat, Merry, menjelaskan bahwa NTP Papua Barat pada April 2026 tercatat sebesar 103,29 atau naik 1,66 persen dibandingkan Maret 2026.

Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani sebesar 1,95 persen, yang menunjukkan adanya perbaikan pendapatan di sektor pertanian dan perikanan.

“Subsektor perikanan menjadi penyumbang terbesar kenaikan NTP, terutama perikanan tangkap yang naik hingga 6,53 persen,” jelasnya.Senin (4/5/2026).

Ia menambahkan, sejumlah komoditas unggulan seperti sapi potong, ikan tenggiri, tomat, dan ikan cakalang turut mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani di Papua Barat.

Selain itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Papua Barat juga mengalami peningkatan. Pada April 2026, NTUP tercatat sebesar 110,06 atau naik 2,27 persen dibanding bulan sebelumnya.

Kenaikan NTUP ini mengindikasikan bahwa kemampuan usaha petani dalam menutup biaya produksi semakin membaik, sekaligus menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor pertanian di daerah tersebut.

Namun, kondisi berbeda terjadi di Papua Barat Daya. NTP di wilayah ini tercatat sebesar 97,33 atau turun sekitar 2,80 persen.

Penurunan tersebut disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 2,34 persen, yang berdampak langsung pada menurunnya daya tukar hasil produksi petani terhadap kebutuhan konsumsi dan biaya produksi.

Beberapa komoditas yang memicu penurunan antara lain ikan kuwe (bubara), buncis, sawi hijau, dan kangkung.

Tak hanya itu, NTUP Papua Barat Daya juga mengalami penurunan sebesar 2,98 persen, yang menunjukkan adanya tekanan terhadap usaha pertanian dan perikanan di wilayah tersebut.

Secara umum, data BPS Papua Barat Tahun 2026 ini menggambarkan bahwa sektor pertanian dan perikanan masih sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas di pasar.

Pemerintah daerah pun diharapkan dapat menjaga stabilitas harga serta memperkuat dukungan terhadap petani dan nelayan, agar kesejahteraan pelaku usaha di sektor ini tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.(JP13).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *