JEJAKPAPUA.COM, MANOKWARI – Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari menggelar pelatihan pencegahan penularan HIV, sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke bayi.
Kegiatan ini berlangsung di Swiss-Belhotel Manokwari, mulai 13 hingga 16 Oktober 2025, dan diikuti oleh sejumlah tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas layanan di Kabupaten Manokwari.
Penanggung jawab program HIV/PIMS Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Everdina Yuliana Wanggai menjelaskan bahwa pelatihan ini sangat penting dalam meningkatkan kemampuan sumber daya manusia tenaga kesehatan agar dapat memberikan tata laksana yang tepat kepada masyarakat.
“Kami merasa bahwa pelatihan ini sangat penting sekali dilakukan untuk SDM kami, tenaga layanan kami, sehingga mereka mampu melaksanakan tata laksana itu dengan benar kepada masyarakat,” ujar Everdina, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, pelatihan ini diikuti oleh 60 peserta dari 12 layanan kesehatan, terdiri dari 5 Puskesmas di wilayah kota, 4 rumah sakit, serta 2 Puskesmas di wilayah pinggiran yakni Puskesmas Pulau Mansinam dan Puskesmas Sidey.
Ke depan, Dinas Kesehatan Manokwari juga akan mempersiapkan Puskesmas PDP (pengobatan dan pendampingan) agar mampu menangani pasien positif tanpa harus dirujuk ke rumah sakit.
“Harapannya, ketika ada ibu hamil yang terdeteksi positif, tidak lagi harus dirujuk seperti dulu. Sekarang kami sudah mampu memekarkan layanan menjadi 17 PDP dari 22 layanan tes yang ada. Ini bagian dari upaya kami menyiapkan seluruh tim agar lebih siap dalam tata laksana pencegahan penularan dari ibu ke bayi,” jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari periode Januari–Oktober 2025:Jumlah ibu hamil yang diperiksa Hepatitis B sebanyak 2.707, dengan 87 kasus positif.
Pemeriksaan sifilis dilakukan kepada 2.449 ibu hamil, dengan 218 kasus positif.Sedangkan pemeriksaan HIV dilakukan terhadap 2.683 ibu hamil, dengan 65 kasus positif.Bayi yang mendapat vaksin HBIG sebanyak 36 bayi, sementara 25 bayi telah menjalani pemeriksaan AID Early Infant Diagnostic (EID).
Everdina menegaskan, urgensi utama kegiatan ini bukan hanya pada peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, tetapi juga kesadaran bagi para ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan sejak awal kehamilan.
“Harapan kami, pada saat tahu kehamilan, ibu Hamil tersebut bisa berkunjung ke puskesmas atau yang namanya kunjungan K1 Murni (K1 adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan), Jika ditemukan kasus positif pada kunjungan pertama, maka dapat segera dilakukan tata laksana yang tepat untuk memutus rantai penularan dari ibu ke bayi,” ungkapnya.
Pelatihan kali ini juga menjadi yang pertama dengan status terakreditasi, hasil kerja sama antara Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari dan BBPK Makassar.
Kegiatan dibagi dalam tiga kelas, melibatkan 47 peserta JPL, dengan materi meliputi komunikasi efektif, tata laksana ibu hamil dan bayi, pencatatan, pelaporan, serta perencanaan logistik.
Terkait tingkat kasus di Manokwari, Everdina menuturkan bahwa tidak bisa langsung disimpulkan sebagai tinggi atau rendah, mengingat HIV memiliki periode laten cukup panjang.
“Kalau HIV ini kita tidak bisa bilang cukup tinggi atau tidak, karena HIV itu bicara data lima tahun sebelumnya. Yang bisa kita katakan adalah kita telah menemukan kasus dan terus berupaya mencapai indikator eliminasi sesuai target,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para tenaga kesehatan di Manokwari semakin siap melayani dan memberikan edukasi kepada seluruh ibu hamil agar penularan penyakit dari ibu ke bayi dapat ditekan semaksimal mungkin.

