JEJAKPAPUA.COM.MANOKWARI – Angka kasus pencabulan terhadap perempuan dan anak di Manokwari dilaporkan mengalami peningkatan signifikan dalam sebulan terakhir.
Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Manokwari.
Kepala UPTD PPA Manokwari, Orpa Marisan, mengaku miris melihat tren kasus kekerasan seksual yang terus meningkat, khususnya yang terjadi dalam lingkup keluarga.
“Untuk satu bulan ini angkanya naik sekali. Jujur, saya pribadi merasa sangat miris. Karena kasus-kasus ini sebagian besar terjadi di lingkungan terdekat korban,” ujar Orpa, Kamis (29/1/2026).
Orpa mengungkapkan, banyak kasus pencabulan tidak terlaporkan karena pelaku merupakan orang terdekat korban, bahkan anggota keluarga sendiri.
Kondisi tersebut membuat korban dan orang di sekitarnya memilih diam karena takut ancaman.
“Seperti pada kasus kemarin, ibu dari pelaku sebenarnya sudah mengetahui perbuatan suaminya sejak lama, tetapi karena ada pengancaman, dia tidak berani melapor,” jelasnya.
Ia menambahkan, korban dalam kasus tersebut sebelumnya hanya menyampaikan keluhan kepada tetangga. Berkat kepedulian warga sekitar, kasus itu akhirnya terungkap dan dapat ditangani secara hukum.
“Puji Tuhan, tetangga berinisiatif membantu. Ini yang kami harapkan, kepedulian masyarakat untuk saling menjaga,” kata Orpa.
UPTD PPA Manokwari mengimbau seluruh masyarakat, khususnya warga Kota Manokwari, agar tidak ragu melaporkan jika melihat, mendengar, atau mengalami dugaan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Kami siap melakukan pendampingan penuh. Seperti kemarin, korban sama sekali tidak memiliki keluarga di sini, dan UPTD yang mengambil alih pendampingan,” tegasnya.
Menurut Orpa, keberanian melapor menjadi kunci utama untuk memutus mata rantai kekerasan seksual yang kerap tersembunyi di balik dinding rumah tangga.
“Kasus ini sebenarnya banyak, hanya saja tidak dilaporkan karena terjadi dalam lingkup keluarga. Padahal kalau berani lapor, kami siap mendampingi,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pelaku kekerasan seksual umumnya bukan orang asing.
“Dari kasus-kasus yang kami tangani, pelaku bukan orang jauh. Justru orang terdekat. Karena itu kita harus benar-benar waspada dalam menjaga perempuan dan anak,” tambahnya.
Orpa berharap adanya kerja sama dari semua pihak, mulai dari keluarga, lingkungan sekitar, hingga aparat penegak hukum, untuk bersama-sama memberantas pelaku kekerasan seksual.
“Harapan kami, masyarakat mau bekerja sama. Kalau kita bersatu, predator-predator ini bisa kita basmi bersama,” tutup Orpa Marisan. (JP13).

