Maret 18, 2026
Dirbinmas Polda Papua Barat Headline Kabupaten Manokwari Pendidikan Polda Papua Barat Polresta Manokwari Polri

Kisah Inspiratif Polisi dari Polda Papua Barat, Iptu Olvin Bangun PKBM untuk Anak Putus Sekolah

JEJAKPAPUA.COM.MANOKWARI – Di balik seragam polisi yang dikenakannya setiap hari, tersimpan kepedulian besar terhadap masa depan anak-anak yang putus sekolah di Kabupaten Manokwari.

‎Sosok itu adalah Iptu Olvin Lucyana Rondonuwu anggota kepolisian yang bertugas di Polda Papua Barat yang juga menjabat sebagai ketua Yayasan Igmam Generasi Kreatif.

‎Disela kesibukannya sebagai aparat penegak hukum, ia memilih mengambil peran lain yang tak kalah penting, yakni membuka akses pendidikan bagi masyarakat melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

‎Melalui Yayasan Igmam Generasi Kreatif yang dipimpinnya, Olvin membangun wadah pendidikan alternatif bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena berbagai keterbatasan.

‎Baginya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan formal semata, tetapi juga menjadi panggilan moral bagi siapa saja yang memiliki kesempatan untuk membantu.

‎“Masih banyak anak-anak di daerah yang putus sekolah dan membutuhkan sentuhan dari kita. Kita tidak bisa hanya melihat yang ada di kota saja,” kata Olvin Minggu (8/3/2026).

‎Olvin menjelaskan, PKBM yang ia dirikan membawa moto sederhana namun kuat, yakni “menjangkau yang tak terjangkau”.

‎Melalui program pendidikan kesetaraan, PKBM Igmam Generasi Kreatif membuka kesempatan belajar bagi masyarakat yang sebelumnya kehilangan harapan untuk melanjutkan pendidikan.

‎Program tersebut meliputi Paket A setara Sekolah Dasar, Paket B setara Sekolah Menengah Pertama, serta Paket C setara Sekolah Menengah Atas.

‎Menariknya, seluruh program pendidikan tersebut diberikan secara gratis bagi warga belajar.

‎“Banyak dari mereka yang sebelumnya sudah putus sekolah dan merasa tidak punya masa depan. Di sini kami ingin mereka tahu bahwa mereka tetap punya kesempatan,” ujarnya.

‎Langkah Olvin memulai kegiatan PKBM bukan tanpa alasan. Ia melihat langsung kondisi masyarakat di beberapa wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan.

‎Bagi sebagian anak, berhenti sekolah sering kali menjadi pilihan yang terpaksa diambil karena kondisi ekonomi keluarga.

‎Melihat kondisi tersebut, Olvin merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu yang nyata bagi masyarakat.

‎“Kalau kita hanya melihat tanpa berbuat apa-apa, maka keadaan tidak akan berubah. Karena itu kami mencoba membuat wadah agar mereka tetap bisa belajar,” katanya.

‎Upaya Olvin dalam mengembangkan pendidikan nonformal ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, salah satunya dari pihak sekolah dan alumni.

‎PKBM Igmam Generasi Kreatif bekerja sama dengan pihak SMA Negeri 1 Prafi serta Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Prafi Angkatan 2002.

‎Melalui kolaborasi tersebut, program pendidikan kesetaraan dapat berjalan dan menjangkau lebih banyak warga belajar di wilayah Prafi dan sekitarnya.

‎Saat ini, puluhan warga belajar mengikuti program pendidikan di PKBM tersebut, sebagian di antaranya bahkan sudah mendekati kelulusan.

‎“Untuk saat ini terdapat lebih dari 40 warga belajar yang mengikuti program pendidikan tersebut, sebagian besar merupakan masyarakat yang sebelumnya putus sekolah,” ujarnya.

‎Olvin berharap setelah memperoleh ijazah paket, para warga belajar dapat melanjutkan pendidikan atau memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

‎“Ketika mereka sudah memiliki ijazah, mereka punya kesempatan lebih besar untuk bekerja dan membantu ekonomi keluarga,” katanya.

‎Meski kegiatan PKBM berjalan dengan baik, Olvin mengakui masih ada sejumlah kendala yang dihadapi dalam menjalankan program tersebut.

‎Salah satu kendala utama adalah keterbatasan fasilitas ruang belajar bagi para warga belajar.

‎Saat ini, kegiatan belajar mengajar masih dilaksanakan dengan memanfaatkan ruang kelas yang dipinjam dari SMA Negeri 1 Prafi.

‎“Yang menjadi kendala saat ini adalah kami masih kekurangan ruangan untuk kegiatan belajar mengajar. Selama ini kegiatan PKBM dilakukan dengan sistem pinjam pakai di SMA Negeri 1 Prafi,” jelasnya.

‎Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menjalankan kegiatan pendidikan bagi masyarakat.

‎Bagi Olvin, keberadaan PKBM bukan sekadar memberikan ijazah, tetapi juga membuka harapan baru bagi mereka yang sempat kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

‎“Harapan kami sederhana, mereka yang dulu sempat putus asa sekarang bisa kembali tersenyum dan punya masa depan,” ujarnya.

‎Di tengah tugasnya sebagai polisi, langkah yang dilakukan Olvin menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali berawal dari kepedulian kecil terhadap sesama.(JP13).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *