Maret 18, 2026
BPJS kesehatan Headline Kabupaten Manokwari Kesehatan

Terapi Cuci Darah Nyaris Tertunda, Peserta JKN di Manokwari Ini Berhasil Aktifkan Kembali Status PBI

JEJAKPAPUA.COM.MANOKWARI – Selama hampir satu dekade hadir di Indonesia, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus memberikan perlindungan pembiayaan layanan kesehatan bagi masyarakat.

Manfaat program tersebut turut dirasakan oleh Wasuri (60), peserta JKN yang berdomisili di Manokwari dan memiliki riwayat penyakit gagal ginjal sehingga harus menjalani terapi hemodialisa atau cuci darah secara rutin.

Wasuri tercatat sebagai peserta JKN kelas III pada segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.

Ia mengatakan telah menjalani terapi cuci darah selama beberapa tahun terakhir dengan jadwal pengobatan dua kali dalam sepekan di RSUD Provinsi Papua Barat.

“Alhamdulillah saya terdaftar sebagai peserta JKN kelas III pada segmen PBI JK. Saya sudah menjalani terapi hemodialisa dalam beberapa tahun terakhir dengan jadwal dua kali seminggu, yaitu hari Senin dan Kamis di RSUD Provinsi Papua Barat,” ujarnya.

Hemodialisa merupakan prosedur medis untuk membersihkan darah dari limbah metabolisme, kelebihan cairan, serta zat berbahaya ketika fungsi ginjal tidak lagi mampu bekerja secara optimal.

Selain itu, prosedur tersebut juga membantu mengontrol tekanan darah serta menjaga keseimbangan mineral penting dalam tubuh seperti kalium, natrium, dan kalsium.

Dalam proses pengobatan yang dijalaninya, Wasuri sempat mengalami kendala ketika status kepesertaan JKN miliknya tiba-tiba dinonaktifkan.

Kondisi tersebut membuat kartu JKN yang dimilikinya tidak dapat digunakan saat hendak menjalani jadwal cuci darah.

“Awalnya saya cukup kaget ketika mengetahui status kepesertaan saya tidak aktif saat akan menjalani cuci darah di hari Senin, padahal sebelumnya pada hari Kamis masih aktif,” kata Wasuri.

Ia mengaku sempat khawatir karena terapi hemodialisa merupakan tindakan medis yang harus dilakukan secara rutin dan tidak dapat ditunda.

Setelah dilakukan penelusuran, Wasuri diketahui termasuk dalam daftar peserta PBI JK yang dinonaktifkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Namun ia kemudian mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme pengajuan reaktivasi kepesertaan JKN melalui pemerintah daerah.

“Saya diarahkan untuk mengurus reaktivasi ke Dinas Sosial setempat,” ujarnya.

Wasuri menjelaskan proses pengurusan reaktivasi kepesertaan berjalan cukup mudah dan tidak memerlukan waktu lama.

Ia hanya perlu membawa surat keterangan sakit dari rumah sakit serta identitas diri ke Dinas Sosial Kabupaten Manokwari untuk dilakukan verifikasi.

Setelah diverifikasi oleh petugas Dinas Sosial, proses reaktivasi kepesertaan dapat segera dilakukan dengan dukungan koordinasi dari BPJS Kesehatan.

“Prosesnya cukup mudah. Saya hanya membawa surat keterangan sakit dan identitas diri ke Dinas Sosial. Petugas di sana sangat membantu dalam proses pengurusannya,” jelasnya.

Setelah proses tersebut selesai, status kepesertaan JKN miliknya kembali aktif sehingga ia dapat melanjutkan terapi cuci darah secara rutin.

“Status kepesertaan saya akhirnya bisa diaktifkan kembali sehingga saya bisa melanjutkan terapi cuci darah seperti biasa,” tuturnya.

Wasuri mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh petugas Dinas Sosial maupun BPJS Kesehatan sehingga proses reaktivasi dapat berjalan lancar.

Ia berharap Program JKN dapat terus berjalan dan semakin meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Semoga Program JKN ini terus ada karena sangat membantu peserta yang membutuhkan seperti saya,” katanya.

Ia juga menyampaikan pesan kepada para pasien hemodialisa lainnya agar tetap semangat menjalani pengobatan.

Menurutnya, layanan cuci darah di Manokwari saat ini sudah tersedia dan dapat diakses menggunakan BPJS Kesehatan.

“Bagi masyarakat yang belum terdaftar saya mengimbau untuk segera mendaftar, dan bagi yang sudah menjadi peserta agar selalu memastikan status kepesertaannya tetap aktif agar tetap dapat berobat tanpa khawatir dengan biaya yang mahal,” pungkasnya. (JP13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *